Di Luar Negeri, Suami Inneke Dijadwalkan Diperiksa KPK

Jakarta- Direktur Utama PT Melati Technofo Indonesia (MTI), Fahmi Dharmawansyah yang merupakan suami artis Inneke Koesherawaty dijadwalkan diperiksa terkait kasus dugaan suap proyek satelit monitor di Badan Keamanan Laut (Bakamla) yang telah menjeratnya sebagai tersangka. Dalam jadwal pemeriksaan yang dirilis Biro Humas KPK, Fahmi disebut diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Deputi Informasi Hukum dan Kerjasama sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla, Eko Susilo Hadi. “Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka ESH (Eko Susilo Hadi),” kata Juru bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Kamis (22/12) Fahmi diduga telah memberikan uang suap kepada Eko yang merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) proyek satelit monitor di Bakamla agar proyek senilai Rp 200 miliar tersebut digarap PT MTI. Uang suap sebesar Rp 2 miliar diberikan Fahmi kepada Eko melalui dua pegawainya, M Adami Okta dan Hardy Stefanus. Namun, sejak ditetapkan sebagai tersangka pada Kamis (15/12), hingga saat ini Fahmi masih berada di luar negeri. Fahmi diduga meninggalkan Indonesia pada Senin (12/12) atau dua hari sebelum Tim Satgas KPK menangkap Eko, M Adami Okta, Hardy dan seorang pegawai PT MTI lainnya, Danang Sri Rhadityo dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (14/12). Selain Fahmi KPK juga menjadwalkan memeriksa seorang swasta bernama Erwin S Arif yang diperiksa untuk melengkapi berkas Eko. Sementara Eko sendiri dijadwalkan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan M Adami Okta. “Erwin diperiksa untuk tersangka ESH, sementara Eko diperiksa untuk tersangka MAO (M Adami Okta),” jelas Febri. Diberitakan, dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (14/12), KPK mengamankan Eko Susilo Hadi, serta tiga pegawai PT MTI, yakni Hardy Stefanus, M Adami Okta, dan Danang Sri Rhadityo. Dari tangan Eko, KPK menyita uang sebesar Rp 2 miliar dalam pecahan dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura. Diduga, uang itu merupakan bagian dari yang dijanjikan Dirut PT MTI, Fahmi Dharmawansyah sebesar 7,5 persen dari nilai proyek satelit monitor sekitar Rp 200 miliar. Suap ini diberikan lantaran Eko merupakan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) proyek yang didanai APBNP 2016 tersebut. Setelah pemeriksaan intensif, KPK menetapkan Eko sebagai tersangka penerima suap. Selain Eko yang berasal dari institusi Kejaksaan, KPK juga menetapkan Dirut PT MTI, Fahmi Dharmansyah serta dua pegawai PT MTI Hardy Stefanus, dan M Adami Okta sebagai tersangka pemberi suap. Sementara, Danang dilepaskan dan masih berstatus sebagai saksi. Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Eko dijerat dengan Pasal Pasal 12 ayat (1) huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sementara, Hardy Stefanus, M Adami Okta dan Fahmi Dharmansyah yang menjadi tersangka pemberi suap disangkakan melanggar Pasal Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Fana Suparman/WBP Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu