Tiba-Tiba Ada Batasan Usia Baru, Renang Indah DKI Walkout

Bandung – DKI Jakarta tak bisa menurunkan atlet andalannya dalam salah satu nomor renang indah pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 karena usia. DKI menilai ada perubahan yang tiba-tiba dibuat. Muncul kisruh dalam cabang renang indah PON di Kolam Renang FPOK UPI, Setiabudi, Bandung, Kamis (22/9/2016). Kontingen DKI memprotes panitia perlombaan kemudian memutuskan walkout (WO). DKI Jakarta berang karena batasan usia yang tertera dalam technical hand book dalam technical meeting menjelang perlombaan berbeda dengan yang diterima sebelum PON. Di sana disebutkan kalau maksimal usia peserta adalah 26 tahun. Padahal sebelumnya–melalui surat yang dikeluarkan komisi keabsahan pada 15 September–renang indah disebut bisa diikuti atlet yang berusia di bawah 28 tahun. Nah, DKI akan menurunkan Adela Amanda Nirmala yang akan mencapai 28 tahun pada bulan 27 November nanti. Adela akan turun di nomor solo technical routine putri. Manajer tim renang indah DKI, M. Rudy Salahuddin Ramto, bersikukuh batasan usia atlet renang indah itu berbeda dengan technical hand book yang diterima kontingen DKI dan sudah diklarifikasi oleh kontingen-kontingen lain. “Jadi ini memang ada permainan kalau saya lihat, THB itu memang sengaja, dengan alasan sudah dicetak, kami sudah bilang bahwa itu tidak sesuai,” ketus Rudy. Bahkan, menurut Rudy, techinal delegated (TD) pun mengatakan bahwa sudah menerima surat tersebut, dan itu tidak menjadi masalah. Namun, hanya kerena enam daerah lain tidak mempermasalahkan, akhirnya dilakukanlah voting. “Ya kalau mau voting sudah pasti kalah lah. Satu banding enam,” sebutnya. Karena itu, tim manajer DKI pun walk out dari tim tersebut. Sebab, menurut Rudy, jika tidak keluar, itu berarti mereka menjalankan aturan yang salah “Saya tidak mau menjalankan aturan yang salah. Ini aturan jelas dari PB, komisi keabsahan. Itu yang jadi masalah. Kami punya harga diri. Mereka itu pasti takut melihat atlet kami. Sampai besok maupun lusa pun kami tidak akan ada yang turun,” jelasnya. Tak hanya nomor solo technical routine putri, DKI Jakarta juga tidak bisa mengikuti perlombaan cabor renang indah di dua nomor lainnya yakni duet technical routine putri dan team free routine putri. “Kami mundur di semua pertandingan. Kan ada 3 nomor. Kami menyayangkan, pengorbanan anak-anak itu kan sudah bertahun-tahun. Mengorbankan sekolah, biaya dan tenaga. Kalau hanya untuk pemaksaan kehendak egois bukan di PON lah mestinya,” terang Rudy. Sabihisma Arsyi, pelatih renang, mengatakan adanya kejadian ini merupakan kesalahan dari Komisi Teknik. “Di seluruh peraturan dunia tak ada pembatasan usia. Ini tak bisa. Mengapa atlet yang jadi korban. Mereka ink kan aset atlet renang Indonesia,” katanya. “Padahal kami ingin kembali mendapatkan emas seperti 2012 Riau. Apa mereka tak mau kami ingin mendapatkan emas,” ketus dia lagi. (mcy/fem)

Sumber: Sport Detik