Setelah Vakum 1 Tahun, Seni Lukis Kaca Hadir Kembali

RIMANEWS – Kembali, setelah hampir satu tahun tak tampak, hadir kembali lukisan-lukisan dari kaca yang dapat Anda nikmati sebentar lagi. Pagelaran yang berlangsung di TEMBI Rumah Budaya, Desa Sewon Yogyakarta 11 Juli mendatang itu akan menghadirkan sejumlah seniman lukis kaca seperti Rina Kurniyati (Yogyakarta), Hadi Koco (Surabaya), Ketut Santosa (Bali) dan Nugroho (Magelang). Menurut kurator lukisan, Mikke Susanto,lukisan kaca mengalami perkembangan. Seniman telah menciptakan “kawasan” kreatif sendiri yang menggambarkan seniman lukis kontemporer masa depan. Dalam perkembangan seni, lukis kaca telah dikenal sejak lama dan mengalami perkembangan pesat antara 1910-1960-an. Secara teknik, melukis dengan kaca membutuhkan pekerjaan ekstra mengingat pelukis harus menorehkan cat dengan minyak secara terbalik. Bagian kiri menjadi kanan atau bagian depan menjadi bagian belakang. Secara umum, Pameran ini menyajikan perkembangan terbaru lukisan kaca di Indonesia. Bukan seperti seni lukis kaca tradisional yang berkutat di sejumlah karya seperti motif cerita wayang, masjid, gereja, kaligrafi dan cerita legenda. Para pelukis muda ini tidak memiliki hubungan dengan tradisi. Masing-masing memiliki gaya personal. Ketut Santosa (Bali) yang masih memadukan unsur tradisi menggunakan gaya dekoratif dimana lukisan-lukisannya untuk penyuluhan masyarakat tentang kesehatan atau iklan layanan sosial. Hadi Koco (Surabaya) mengusung gaya realis yang melukis segala hal, termasuk menerima pesanan potret, landscape, maupun lukisan simbolisme. Rina Kurniyati (Yogyakarta) menggunakan kaca untuk memadukan dunia sastra dan budaya koleksi mobil-mobil maupun potret selebritis dengan gaya pop/superrealistik. Adapun Nugroho (Magelang), yang kental dengan aroma dan gaya ekspresif, tak terikat oleh gaya, semaunya sendiri, ekperimentatif dan sesekali instalatif. Masing-masing seniman luruh dan menggali berbagai kemungkinan dengan caranya masing-masing. Mereka berusaha mengubah pengertian lukisan kaca dari “folksong in paint” menjadi “sosial/personal in paint”. Mereka adalah para penjinak kaca, tutup Mikke Susanto. (ds/ gn). Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Seni dan Sastra , Seni Lukis Kaca , TEMBI Rumah Budaya , Desa Sewon Yogyakarta , Seni dan Sastra , Seni Lukis Kaca , TEMBI Rumah Budaya , Desa Sewon Yogyakarta

Sumber: RimaNews